Pengakuan Sopir Ambulan Pengantar Jenasah Covid-19 Pasca Berakhirnya PSBB di Surabaya Raya

"Tidak ada penuruan sama sekali, kita sebagai sopir ambulan bahkan untuk luar kota pun full dan cenderung meningkat," kata Rozi saat ditemui sbo.co.id, di rumahnya, Rabu (17/6/2020).

Pengakuan Sopir Ambulan Pengantar Jenasah Covid-19 Pasca Berakhirnya PSBB di Surabaya Raya
Gambar Foto : M. Fahrur Rozi (kanan) mengenakan APD saat bertugas/ sbo.co.id
Pengakuan Sopir Ambulan Pengantar Jenasah Covid-19 Pasca Berakhirnya PSBB di Surabaya Raya

Sidoarjo, Jawa Timur - Pasca berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan memasuki fase transisi tatanan kenormalan baru, bukan berarti angka pasien Covid-19 di Jawa Timur baik yang terkonfirmasi positif maupun yang meninggal dunia mengalami tren penurunan. 

Seperti pengakuan yang disampaikan M. Fahrur Rozi (43 tahun), salah seorang relawan sopir ambulan pengantar jenasah Covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo yang mengatakan bahwa setiap hari dirinya mengantar jenazah Covid -19 sekitar 2 kali dalam 1 sif. Saat ini setidaknya ada 3 sif tim ambulan pengantar jenasah Covid-19 RSUD Dr. Soetomo sehingga jika dikumulatifkan total kesaharian jenasah yang diantar sebanyak 6 jenasah. 

Bahkan Rozi menambahkan, 8 hari pasca berakhirnya PSBB Surabaya Raya bisa dikatakan tidak diikuti oleh turunnya angka pasien meninggal karena Covid-19.

"Tidak ada penuruan sama sekali, kita sebagai sopir ambulan bahkan untuk luar kota pun full dan cenderung meningkat," kata Rozi saat ditemui sbo.co.id, di rumahnya, Rabu (17/6/2020).

Kecenderungan naiknya jumlah pasien meninggal Covid-19 menurut Rozi hal ini juga dikuatkan dari pengakuan bagian call center 112 Pemprov Jawa Timur yang mengurusi permintaan ambulan jenasah Covid-19.

"Waduh, call center (112) sampai kewalahan untuk memenuhi permintaan ambulan jenasah, jadi sekarang ini bukan hanya rumah sakit pemerintah tapi rumah sakit swasta juga mengordernya ke kita," tambah Rozi yang selain sebagai relawan sopir ambulan Covid-19 juga sehari - hari mengajar ngaji di lingkungan rumahnya.

Sebagai orang yang bersinggungan langsung dengan jenasah pasien Covid-19, Rozi mengaku prihatin dengan kondisi dan perilaku masyarakat saat ini. Menurutnya, masyarakat seakan telah menganggap sepele pandemi Covid-19. 

Bahkan Rozi mengaku miris melihat beberapa pemberitaan terkait adanya penjemputan paksa yang dilakukan oleh keluarga jenasah yang meninggal berstatus positif Covid-19 di rumah sakit.

"Saya berharap agar masyarakat mengikuti aturan pemerintah dalam menerapkan protokol kesehatan dan berharap masa Pandemi ini segera berakhir," pungkas Rozi. (Bg)